Jarilampung.com–
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prabowo saat menghadiri acara peluncuran buku Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Jakarta pada 7 Agustus 2026. Maksud utama dari pernyataan ini bukan berarti sekolah itu tidak penting, melainkan latar belakang sekolah formal yang terkenal tidak menjamin tingkat kecerdasan, karakter, atau kesuksesan seseorang.
Presiden Prabowo menjadikan Bahlil sebagai contoh. Menurutnya, Bahlil tidak lulus dari kampus yang populer, bahkan berguyon bahwa kampusnya sudah tidak ada saat dicari di Google, tetapi ia terbukti cerdas dan berhasil menjadi menteri.
Kecerdasan dan karakter dinilai lebih banyak dibentuk oleh didikan, doa, serta pengorbanan orang tua, khususnya peran seorang ibu. Pengalaman hidup, mental petarung, dan kemampuan melewati berbagai hambatan ekonomi atau rintangan hidup jauh lebih penting dalam membentuk kualitas seorang pemimpin.
Pernyataan ini memicu diskusi hangat di media sosial. Sebagian masyarakat setuju bahwa sekolah hanyalah fasilitator penunjang potensi bawaan. Di sisi lain, beberapa pihak mengingatkan agar narasi ini tidak disalahartikan sebagai “romantisasi tidak sekolah”, karena pendidikan formal tetap krusial dalam membangun kemampuan berpikir kritis dan memberantas buta huruf secara massal.
Dalam psikologi, sekolah atau institusi pendidikan formal pada dasarnya berfungsi sebagai tempat mentransfer pengetahuan (knowledge) dan melatih keterampilan spesifik, bukan sumber utama dari kapasitas kecerdasan bawaan seseorang.
Pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut kecerdasan diturunkan dari orang tua (khususnya ibu) sejalan dengan studi psikologi perkembangan dan neurosains. Penelitian psikologi perilaku menunjukkan bahwa heritabilitas (faktor genetik) menyumbang sekitar 50% hingga 80% terhadap variasi IQ manusia.
Dari kacamata psikologi, pernyataan Presiden Prabowo tidak salah jika konteksnya adalah sekolah bukan satu-satunya penentu tunggal atau pencipta kecerdasan.
Sekolah bertindak sebagai fasilitator dan akselerator untuk mengasah potensi kognitif yang sudah ada. Namun, modal dasar kecerdasan itu sendiri dibentuk oleh cetak biru genetik, kehangatan asuhan keluarga, serta ketangguhan mental individu dalam merespons ujian kehidupan nyata.
Dalam pidatonya, Presiden menekankan bahwa kecerdasan dan kualitas individu lebih banyak dipengaruhi oleh didikan orang tua, faktor genetik (DNA), serta tempaan kesulitan hidup (pengalaman langsung). (*/JERAT)







