Home / DAERAH / Lampung Barat

Sabtu, 28 Maret 2026 - 19:16 WIB

Ajang Silaturahmi Kesenian Jaranan 1447 H/2026 M Berlangsung Meriah, Bupati Parosil Mabsus Apresiasi Pelestarian Budaya

Lambar: jarilampung.com– – Denting gamelan bertalu mengiringi gerak lincah para penari jaranan di Pekon Tambak Jaya, Kecamatan Way Tenong pada Sabtu (28/03/2026).

Di tengah riuh tepuk tangan masyarakat, perayaan budaya itu tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kesinambungan tradisi dan eratnya persatuan.

Kemeriahan Ajang Silaturahmi Kesenian Jaranan 1447 Hijriyah/2026 Masehi ini menjadi bagian dari rangkaian panjang tradisi masyarakat Lampung Barat.

Sebelumnya, masyarakat telah lebih dulu merayakan budaya sekura yang digelar sejak 1 hingga 7 Syawal, sebuah momentum khas yang mengandung makna kebersamaan, keterbukaan, dan persamaan derajat tanpa memandang latar belakang.

Memasuki 8 Syawal, semangat tersebut dilanjutkan melalui pertunjukan jaranan yang menjadi ruang ekspresi sekaligus ajang memperkuat silaturahmi antar masyarakat Lampung Barat dari berbagai suku.

Jika sekura menghadirkan simbol kesetaraan melalui topeng yang menyamarkan identitas, maka jaranan menampilkan harmoni melalui gerak, irama, dan kekompakan para pemainnya.

Baca Juga :  Upaya Percepatan Vaksinasi Covid-19 Polres Kab Tuba Kembali Membuka Gerai Vaksin Presisi

Setidaknya 15 grup kesenian jaranan dari Kecamatan Sekincau, Way Tenong, dan Air Hitam turut ambil bagian dalam kegiatan ini.

Ribuan warga dari berbagai wilayah memadati lokasi, larut dalam suasana yang tidak hanya meriah, tetapi juga memiliki kehangatan sosial.

Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa rangkaian budaya dari sekura hingga jaranan merupakan kekuatan besar dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman.

“Atas nama Pemerintah Daerah Lampung Barat, saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Kebudayaan harus kita jaga dan lestarikan karena merupakan salah satu alat pemersatu bangsa,” ujar Parosil.

Ia menjelaskan bahwa sekura dan jaranan bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan media sosial yang efektif dalam membangun komunikasi, mempererat hubungan, serta menumbuhkan rasa saling menghargai di tengah perbedaan suku, budaya, dan agama.

Baca Juga :  Pengadilan Tinggi Banten dan NTB Mengambil Sumpah Advokat Persadin Angkatan VII dan VIII

“Mulai dari sekura sejak 1 hingga 7 Syawal, hingga hari ini jaranan di 8 Syawal, semuanya menjadi rangkaian yang memperkuat silaturahmi. Ini adalah bukti bahwa budaya bisa menjadi alat pemersatu dan penjaga harmoni masyarakat,” tambahnya.

Menurut Bupati Parosil, tingginya antusiasme masyarakat menjadi cerminan bahwa nilai-nilai budaya masih hidup dan relevan hingga saat ini di tengah gempuran kecanggihan tekhnologi digital.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus melestarikan tradisi sebagai warisan sekaligus fondasi dalam membangun kebersamaan.

“Semangat yang tertinggal bukan hanya kegembiraan, tetapi juga kesadaran bahwa di balik setiap gerak tari dan irama musik, terdapat nilai luhur yang terus menyatukan masyarakat Lampung Barat dalam bingkai keberagaman,” pungkasnya.(*)

Berita ini 24 kali dibaca

Share :

Baca Juga

DAERAH

Imbau Tracing Diperketat Cegah Omicron, Puan: Jangan Sampai Kita Kecolongan

Bandar Lampung

Anggota Komisi II DPR RI Endro S Yahman Apresiasi Upaya Hukum Masyarakat Adat 5 Keturunan Bandardewa

DAERAH

Dengan komsos Babinsa Sondakan Himbau Masyarakat Patuhi Prokes

DAERAH

Terjunkan Babinsa, Danramil 03/Ngadirojo Berharap Vaksinasi Berjalan Lancar Dan Terapkan Protekes

DAERAH

Kapolsek Tulang Bawang Tengah Pimpin Patroli Malam Hari, Antisipasi Gangguan Kamtibmas

DAERAH

TIM GLD AKAN GELAR FESTIVAL LITERASI LAMPUNG BARAT IV

DAERAH

Halal Bihalal Insan Pers, AWASI: Terima Kasih Untuk Tubaba

DAERAH

Polsek Tumijajar dan Polsek Tulang Bawang Tengah bersama Warga Gotong Royong Perbaiki Rumah Rusak Akibat Puting Beliung